Teknologi membawa kebinasaan kepada manusia

Kadang-kadang sakit hati jugalah bila baca komentar di social media. Bermacam ragam dan bermacam bahasa yang dilontarkan. Yang bergaduhnya la, yang biadap dan mengeluarkan bahasa yang tidak sepatutnyalah. Semua ada. Bila aku klik kat profile, gambar budak bawah umur ataupun fake account. Tapi ada juga yang menggunakan account sendiri cumanya apa yang ditulis pada bio atau apa yang diposting pada account dia langsung tak menggambarkan komentar yang dia lontarkan.

Aku tak nak dah baca komen-komen netizan tapi itulah, membaca komen netizan ni seperti makan sambal belacan. Dah tahu pedas tapi nak makan lagi.

I knew social media quite long time and at very young age. But I am not friendster generation. My first social media account is myspace. Then before Facebook was well known in Malaysia, I was among the early one had Facebook account. I had seen the revolution Mark has made through out these years. I had moment when this social media became too overwhelmed and I decided to stop using it for a year or two.

I could call myself a tech-nerd. But I also strongly hold a principle of ‘human above technology’. Technology is a tool to simplify human’s work but not to control or shaping human life and future. 

Sometime I feel, technology is becoming new God of 21st century. The dependency of human towards technology is quite worrisome. But, I won’t deny the existence of technology bring in so much opportunities and very helpful to human’s productivity. 

Namun keseimbangan dan kesederhanaan adalah kunci utama dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan umat manusia sejagat. Tetapi untuk menemui titik keseimbangan itu bukanlah perkara yang mudah. Kerana setiap manusia melihat ‘keseimbangan’ dan ‘kesederhanaan’ melalui perspektif yang berbeza.

Pokoknya, didunia ini tidak ada satu formula yang ideal untuk semua manusia. What might work for me, might not work for you. Aku adalah manusia yang melihat sesuatu ditengah-tengah. Persoalan seperti “Teknologi membawa kebinasaan kepada manusia” tidak boleh aku jawab secara ‘ya’ atau ‘tidak’. Kerana disebalik statement itu ada beberapa context yang perlu dihuraikan seperti teknologi apa (?), jenis kebinasaan bagaimana (?), golongan manusia yang mana (?).

Contoh, teknologi militan membawa kebinasaan harta dan nyawa kepada rakyat biasa. Tetapi bagaimana pula statement ini, teknologi militan yang bagus menyelamatkan harta dan nyawa rakyat dari dibendil pihak musuh. 

As to conclusion, technology is just a tool. But the person behind the tool is responsible for every action his/her take. The people who create the technologies are also responsible to educate the ethical of using their technologies.

What I write here is not as easy as it said. Tetapi ini yang aku harapkan agar setiap orang bertanggungjawab ke atas apa yang dia lakukan — bukan hanya di alam realiti tetapi juga di alam maya. Teknologi telah mewujudkan satu dimensi baru yang disebut sebagai alam maya (cyberspace/virtual life). 

Tetapi alam ini sangat unstable and fragile. Dan ia juga membuatkan manusia unstable and too fragile especially for some people.  

Berhati-hati dan jagalah diri.You can not control people action but you can control your action. Always be mindful in everything you post on social media. Whatever you see at other people life on social media, always remember IT IS NOT what it is. There is always a story or two behind it.

Signing off,
Social Media Veteran

0 Comments

Thank you for leaving kind words. Deeply appreciated. May you have a good day too!